TERNATE – Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Ternate dan sekitarnya, termasuk gempa utama bermagnitudo 7,6, menjadi perhatian serius otoritas kebencanaan. Berdasarkan hasil analisis geologi, aktivitas seismik di Laut Maluku dipicu oleh struktur tektonik yang sangat kompleks dan unik di dunia.

Mekanisme Patahan Naik (Thrust Fault)

Dalam laporan resminya, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, peristiwa ini dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa guncangan tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Mekanisme ini terjadi akibat adanya tekanan hebat yang memicu deformasi atau patahan batuan di dalam Lempeng Laut Maluku.

Penyebab Utama: Subduksi Ganda

Secara geologis, wilayah Maluku Utara berada di atas zona Subduksi Ganda (Double Subduction). Fenomena ini terjadi karena Lempeng Laut Maluku terjepit di antara dua lempeng besar:

  1. Lempeng Eurasia di sebelah barat.

  2. Lempeng Laut Filipina di sebelah timur.

Kondisi lempeng yang menyusup ke dua arah sekaligus membentuk struktur yang labil. Tekanan konstan dari kedua sisi inilah yang menyebabkan wilayah Ternate dan sekitarnya memiliki frekuensi gempa yang tinggi dengan kekuatan yang signifikan.

Imbauan Keselamatan dari BNPB

Menyikapi banyaknya gempa susulan yang terjadi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui pusat informasinya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Fokus utama saat ini adalah keamanan struktur bangunan.

"Warga diharapkan memastikan kembali kondisi kelayakan bangunan rumah masing-masing. Jika terdapat kerusakan struktur seperti retakan lebar pada tiang penyangga, sangat disarankan untuk tidak menempati bangunan tersebut sementara waktu guna menghindari risiko akibat gempa susulan," tulis laporan situasi BNPB.

Otoritas juga meminta masyarakat untuk hanya memercayai informasi dari kanal resmi pemerintah dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak berdasar (hoaks) mengenai prediksi gempa susulan maupun potensi tsunami yang sudah dinyatakan berakhir.

Sumber Berita: BMKG dan BNPB