Gelombang Protes "No Kings" Guncang Amerika Serikat: Jutaan Warga Tolak Kepemimpinan Otoriter
WASHINGTON D.C. – Amerika Serikat kembali diguncang aksi massa besar-besaran yang bertajuk "No Kings" pada Sabtu (28/3/2026). Melansir laporan dari Kompas.tv dan Detikcom, demonstrasi ini menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern AS, dengan partisipasi yang diperkirakan mencapai lebih dari 8 juta orang di seluruh penjuru negeri.
Gerakan ini merupakan bentuk perlawanan warga sipil terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin menunjukkan kecenderungan otoriter dan melampaui batas konstitusi.
Istilah "No Kings" (Tanpa Raja) dipilih oleh para aktivis untuk menegaskan kembali prinsip dasar Amerika Serikat sebagai negara republik yang menempatkan hukum di atas individu. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber kredibel, ada beberapa isu krusial yang memicu kemarahan publik:
-
Kebijakan Imigrasi Agresif: Penempatan ribuan agen federal di berbagai negara bagian untuk melakukan deportasi massal yang berujung pada insiden fatal di Minnesota.
-
Intervensi Militer & Anggaran: Protes terhadap penggunaan pajak warga untuk mensubsidi konflik luar negeri di tengah naiknya biaya hidup dan harga pangan di dalam negeri.
-
Ancaman terhadap Demokrasi: Kelompok koalisi seperti Indivisible dan ACLU menyoroti upaya pemerintah dalam membungkam kebebasan berbicara dan tekanan terhadap oposisi politik.
Aksi yang berlangsung di lebih dari 3.300 lokasi ini tidak luput dari ketegangan. Di Washington D.C., ribuan orang berkumpul di depan Monumen Lincoln, membawa spanduk bertuliskan "People Over Billionaires".
Sementara itu, di Los Angeles dan Las Vegas, dilaporkan terjadi kericuhan kecil. Mengutip Tribun-Medan, aparat keamanan sempat menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang bertahan hingga malam hari di depan gedung federal. Sejumlah penangkapan juga dilaporkan terjadi di wilayah tersebut.
Tokoh publik ternama seperti aktor Robert De Niro dan Senator Bernie Sanders turut memberikan dukungan. Sanders dalam orasinya mengecam peran kaum ultra-kaya yang dianggap telah "membajak" politik Amerika demi kepentingan pribadi.
Gerakan ini terus menunjukkan tren peningkatan jumlah massa yang signifikan. Sebagaimana dicatat oleh Detik News, berikut adalah linimasa pertumbuhan aksi "No Kings":
-
Juni 2025: 4 - 6 juta peserta di 2.100 lokasi.
-
Oktober 2025: 7 juta peserta di 2.700 lokasi.
-
Maret 2026: 8+ juta peserta di 3.300 lokasi.
Respons Pemerintah
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terbaru terkait gelombang protes ketiga ini. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Presiden Trump menegaskan bahwa kebijakan yang diambil adalah demi keamanan nasional dan pemulihan ekonomi Amerika.
Fenomena "No Kings" kini menjadi simbol polarisasi politik yang semakin tajam di Amerika Serikat, sekaligus ujian berat bagi ketahanan demokrasi di Negeri Paman Sam tersebut
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tulis Komentar