PATI – Indonesia mulai bersiap menghadapi tantangan iklim besar di tahun 2026. Fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang dijuluki sebagai "Godzilla El Nino" diprediksi akan menyambangi wilayah tanah air mulai April hingga puncaknya pada Agustus 2026.

Istilah "Godzilla" merujuk pada kekuatan fenomena ini yang diperkirakan bakal menyamai atau bahkan melampaui rekor El Nino ekstrem yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015 silam.

Prediksi BRIN vs Respons BMKG

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer mencatat bahwa kemunculan El Nino tahun ini akan sangat krusial karena berbarengan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.

"Kombinasi El Nino kuat dan IOD Positif akan membuat musim kemarau di Indonesia menjadi jauh lebih kering dan lebih panjang dari biasanya," lapor pakar iklim BRIN, Prof. Erma Yulihastin.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Meskipun BMKG menyebut istilah "Godzilla" cenderung hiperbolis, data mereka mengonfirmasi bahwa peluang El Nino masuk ke kategori moderat hingga kuat di semester kedua 2026 mencapai 50-60%.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

Fenomena ini tidak hanya soal cuaca yang terasa lebih terik, namun membawa dampak nyata pada beberapa sektor:

  • Kekeringan di Wilayah Selatan: Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi akan mengalami pengurangan curah hujan paling drastis, yang berpotensi memicu krisis air bersih.

  • Ancaman Karhutla: Wilayah Sumatera dan Kalimantan kembali berada di zona merah risiko kebakaran hutan dan lahan akibat lahan yang mengering ekstrem.

  • Ketahanan Pangan: Pemerintah melalui Bulog telah mulai memperkuat cadangan pangan, terutama stok beras, guna mengantisipasi kegagalan panen di lumbung-lumbung padi nasional.

Tidak Seluruhnya Kering

Uniknya, meski wilayah Barat dan Selatan Indonesia terpanggang, wilayah Timur Laut seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diprediksi masih memiliki potensi curah hujan yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dampak El Nino 2026 akan sangat bervariasi di tiap daerah.

Langkah Mitigasi

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mulai bijak dalam penggunaan air dan menjaga kondisi kesehatan di tengah suhu ekstrem. Bagi para petani, pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan sangat disarankan.

"Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus mendatang. Kami terus melakukan pemantauan harian dan memperbarui sistem peringatan dini agar masyarakat bisa melakukan langkah antisipasi lebih awal," ungkap juru bicara BMKG dalam siaran persnya.