JAKARTA — Bank Indonesia (BI) akhirnya angkat bicara merespons kondisi nilai tukar Rupiah yang secara mengejutkan menembus level terendah sepanjang sejarah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (7/4/2026). Depresiasi tajam ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik, mengingat posisi Rupiah kini telah melampaui titik psikologis terlemah yang pernah tercatat sebelumnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia menegaskan bahwa pelemahan ini tidak terlepas dari kombinasi faktor eksternal yang sangat dominan, terutama ketegangan geopolitik global yang memburuk dan sikap hawkish bank sentral AS, The Fed, yang kembali mengisyaratkan kenaikan suku bunga. Kondisi ini memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang menuju aset-aset aman atau safe haven, sehingga menekan mata uang lokal secara signifikan.

Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar melalui kebijakan intervensi ganda atau triple intervention. Langkah ini mencakup intervensi di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing. BI juga terus berkoordinasi erat dengan pemerintah untuk memastikan dampak pelemahan ini tidak mengganggu stabilitas inflasi, terutama dari sisi barang impor (imported inflation).

Nilai tambah yang perlu dicermati dari situasi ini adalah ketahanan cadangan devisa Indonesia yang diklaim masih dalam posisi sangat memadai untuk melakukan stabilisasi dalam jangka menengah. Meski berada di level terendah sejarah, otoritas moneter mengimbau pelaku usaha dan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi spekulasi yang berlebihan. Bank Indonesia meyakini bahwa penguatan fundamental ekonomi domestik dan terjaganya surplus neraca perdagangan akan menjadi modal utama bagi Rupiah untuk kembali menemukan titik keseimbangan baru dalam waktu dekat.